Dari Ibnu Umar -radhiallahu ‘anhuma-, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ يَعْنِي الثُّومَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا
“Barangsiapa memakan dari pohon ini, yaitu bawang putih, maka jangan sekali-kali dia mendekati masjid kami.” (HR. Al-Bukhari no. 339 dan Muslim no. 561)
Dari Jabir bin Abdullah t dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bahwa beliau bersabda:
مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثُّومِ و قَالَ مَرَّةً مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
“Barangsiapa yang makan sayur bawang putih ini, -dan pada kesempatan lain beliau bersabda, “Barangsiapa makan bawang merah dan putih serta bawang bakung,”- maka janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa terganggu dari bau yang juga manusia merasa terganggu (disebabkan baunya).” (HR. Muslim no. 564)
Dari Aisyah -radhillahu anha- dia berkata:
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membangun masjid di tempat yang banyak rumahnya (pemukiman), dan juga memerintahkan untuk membersihkan serta memberikan wewangian padanya.” (HR. Abu Daud no. 455 , AT-Tirmizi no. 542, Ibnu Majah no. 751, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Misykah Al-Mashabih no. 717)
Dari Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
“Saya tidaklah diperintahkan untuk meninggikan masjid-masjid.”
Ibnu Abbas berkata, “Sungguh kalian akan meninggikan masjid-masjid sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani meninggikan (tempat ibadah mereka).” (HR. Abu Daud no. 448 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 718)
Penjelasan ringkas:
Masjid adalah tempat yang baik dan juga tempatnya orang-orang yang baik, karenanya dia sepatutnya disucikan dari bau-bau yang busuk dan sebaliknya senantiasa diwangikan dengan bau-bau yang harum. Hal ini jauh lebih utama dan lebih penting daripada menghias-hiasi dan meninggikan masjid tersebut, karena kedua amalan ini bukanlah tuntunan Nabi -alaihishshalatu wassalam-.
Maka hadits ini tegas menunjukkan larangan masuk masjid kepada siapa saja yang membawa bau busuk, baik pada badannya maupun pada mulutnya. Sebabnya karena para malaikat akan merasa terganggu karenanya sebagaimana manusia juga terganggu karenanya. Karenanya barangsiapa yang badannya berbau tidak sedap, maka hendaknya dia mandi terlebih dahulu atau minimal memakai wangi-wangian yang bisa menghilangkan bau badannya sebelum dia mendatangi masjid. Demikian pula orang yang mulutnya bau karena memakan bawang-bawangan yang mentah (bukan yang sudah dimasak/digoreng) atau habis minum miras atau habis menghisap rokok dan semacamnya yang menyebabkan mulutnya berbau tidak sedap, maka hendaknya dia menghilangkan dulu bau mulutnya sebelum ke masjid. Jika tidak maka dia telah terjatuh ke dalam larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam- yang tersebut dalam hadits Ibnu Umar dan Jabir di atas.
Sebaliknya Islam menuntunkan agar masjid senantiasa dibersihkan dari semua hal-hal yang bisa menganggu kekhusyuan ibadah dan mewangikan masjid dengan pengharum ruangan atau dengan membakar bukhur (kayu yang asapnya wangi).
Menjaga kekhusyuan orang yang beribadah inilah yang menjadi inti dari dibangunnya masjid, karenanya termasuk melampaui batas dan mubazzir tatkala masjid dibangun atau dihiasi atau direnovasi bukan untuk tujuan ini. Sungguh Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah menyatakan terlarangnya meninggikan masjid karena hal itu merupakan perbuatan orang-orang kafir. Yang dimaksud dengan meninggikan masjid di sini bukanlah membangunnya dalam 2 lantai atau lebih, karena hal ini terkadang dibutuhkan untuk menampung jamaah. Akan tetapi yang dimaksud dalam larangan ini adalah meninggikan atap masjid tanpa keperluan, sebagaimana tingginya atap-atap gereja. Juga termasuk dalam larangan ini adalah menghias-hiasi masjid dengan perkara yang tidak bermanfaat bahkan cenderung mengganggu orang yang shalat, misalnya dengan menuliskan kaligrafi pada dinding atau meletakkan tegel yang bercorak di depan atau di bawah (pada sajadah) orang yang shalat, yang bisa mengganggu kekhusyuan orang yang shalat. Dan demikian seterusnya.
Di antara hukum yang berkenaan dengan masjid adalah, hendaknya kaum muslimin membangun satu masjid untuk tiap pemukiman. Yang mana ini bertujuan untuk lebih menghidupkan pemukiman tersebut dengan syiar islam dan untuk mempermudah kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan hendaknya mereka jangan membangun dua atau lebih masjid di dalam satu pemukiman kecuali dengan adanya izin pemerintah serta mempunyai alasan syar’i dalam pembangunannya. Karena sungguh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mencela pembangunan masjid yang bertujuan hanya untuk menandingi masjid lainya, dan juga karena hal itu akan menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dan mempersedikit jumlah jamaah pada masjid yang pertama.
Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1912
Terima kasih artikelnya tapi kalau diqiyaskan ke mulut bau nanti semua tidak boleh masuk masjid
bukan seperti itu..
bau rokok kan beda..lebih bau kan
makanya Rasulullah menganjurkan bersiwak
tidak ada dalil shorih orang dilarang masuk masjid gara gara merokok,bau bawang yang menyengat tidak sama dengan bau rokok,ini qiyas adna yng tidak betul.larangan datang kemasjid sesudah makan bawang(mentah) itu bukan alat tahrim,tapi makruh!!!
emangnya anda perokok? koq membela..
apakah anda senang dengan bau rokok ketika masuk masjid..?
iya memang g ada dalil sharih karena bentuk rokok tidak ada pada zaman rasulullah..
dianjurkan untuk membersihkan mulut dengan bersiwak ketika memasuki masjid..sebagai adab..dan apa perlunya pula di masjid merokok..
dari segi manfaat juga rokok itu g ada manfaatnya..
…. rukuklah bersama orang yang rukuk….
…. merokoklah bersama orang-orang merokok…
langsung ngakak dengan komen ini
ada ada saja..
yah bener bgt tuh apa yang ditulis sama rangtalu.,.,.
silakan
Ayo… gosok gigi dulu sebelum ke masjid
kaka udah sikat gigi belom?
alhamdulillah, pilihanku untuk tidak merokok ternyata lebih banyak membawa manfaat, insya Allah..
alhamdulillah mas
tidak merokok emang pilihan yang sangat baik ^^
Saya jadi inget waktu SMA, temen2 kelas lain pas jeda sebelum sholat jumat, malah main sepakbola.
Bodohnya, akibat itu mereka jumatan dengan baju berkeringat.
hehehe kalau bu keringat emang selain mengganggu diri sendiri dengan pakaian yang basah dan bau juga mengganggu orang lain tentunya ^^
Hehe… Seru ceritanya…
Untung saja dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah menghisap yg namanya rokok…
alhamdulillah hebat banget tuh mas
blog bagus gan… aku pasang link… back link yo….
terima kasih mas ferdys..
tapi gmana dong, masakan indonesia pasti ada bawangnyakan?atau selama tidak berbau/mengganggu gpp ya?
tidak mengharamkan bentuk bawang putihnya..tapi hendaknya ketika masuk masjid dianjurkan untuk membersihkan mulut supaya bersih dan harum..salah satu bau yang mengganggu adalah bau bawang putih mbak..
sebuah pencerahan…
semoga ini dibaca oleh para perokok
pilihan hidup sehat semoga bbisa menjadi budaya baik
salam sukses..
sedj
betul mas..
lebih sehat dengan tidak merokok
sebelum sholat hendaknya kita bersuci diri. termasuk gosok gigi
betul sekali mas..
menggosok gigi dan bersiwak termasuk salah satu perkara yang dianjurkan rasulullah ketika akan masuk masjid dan sholat
bersyukur bahwa kita tidak merokok, banyak ruginya bila kita merokok, salah satunya buah bekas asap rokok selalu menempel di badan.
yup betul sekali mas..dan bau itu sangat tidak enak sekali dan mengganggu orang lain ^^
maaf saya sedang menyerang, rekan2 sesama blogger, minta pendapat dan dukungannya disini ya:
http://maskurmambangblog.wordpress.com/2010/11/26/gambar-porno-di-blog-wajarkah/
saya sangat setuju sekali dengan artikelnya mas
Secara syar’i baunya aja udah gak boleh, apalagi kalo ada yang merokok dimasjid. Saya suka terganggu kalo ada yang merokok dimasjid, ketika ditegur malah jadi perkelahian kang.
secara syar’i yang manaaa?takut saya orang yang lagi puasa yang mulutnya bau jadi ga boleh ke masjid
baunya orang yang lagi puasa itu beda mas..
tolong diperhatikan..
kang,, memang artikel ini menarik bgt,, aplg yg membaca perokok dan perokok beraat, disamping itu jg wewangian yg skrng py model dan macamnya luar biasa,, ada yg bikin nyaman dg bau wangi tu ada yg gak,,,dan jg byk wewangian yg gak dianjurkan yaitu yg mengandung alkohol,byk jg tercium dimasjid,,tentunya kang,,,kl disimpulkan nurut saya,, wangi itu relatif,,,yg penting gimana cara hidup yg bersih dari bau yg merupakan salah satu adab org masuk masjid,,,
tapi kalau rokok yang udah jelas baunya hehe
wwah… artikelnya sangat bagus. aku jadi kesindir
hehehe ini demi menjaga adab terhadap masjid mas..
kalao anda memang perokok y alangkah baiknya membersihkan mulut terlebih dulu sebelum masuk masjid
saya pribadi tidak suka rokok dan perokok, dan selalu heran (lebih tepatnya kesal) dengan bapak-bapak yang menunggu waktu adzan selesai dengan menghisap rokok di halaman mesjid, dan lebih heran lagi dengan tersedianya asbak di mesjid..!
oyaa..lama tak berkunjung..mudah2an tidak lupa dengan tetanggamu ini
disini lah letak pahala anda menanti,, jk ketemu lg keadaan serupa ,,, doa kan sesama muslim yg sedang merokok supaya berhenti merokok,atau doakan agar bs mengbah kebiasaan yg membuat org lain tidak nyaman, mendoakan org aplg sesama muslim meninggalkan kebiasaan yg nurut sebagian ulama haram dan sebagianya tidak,..isya allloh,,, Alloh Maha Tahu,,,
bener nasihati dan do’akan
lihat pada saat sholat id…sebelumnya para perokok melakukan aktivitas merokok(banyak),melakukan diluar masjid,sesudah itu mereka wudhu,
lalu sholat,,dan ternyata tidak ada seorang pun yang protes saat sholat selesai…
kenapa hal itu terjadi,??Ditanya kenapa???
ya karena merokok sudah menjdi budaya di masyarakat kita dan belum dipandang dosa..dibanding menghisap ganja…
tentunya g akan ada yg protes,,, krn mereka sdh tau adabnya, bersiwak,, wudlu, dan melakukan ibadah… minimmal bau gak menyengat,g ada yg protes..
ya mending lah kalao habis merokok trus bersiwak mah hehe
Nuhun kang… Alhamdulillah symah bkan perokok
alhamdulillah..syukur atuh,,
emang ada hadits yang menyunahkan kita untuk bersiwak saat wudhu’, sebenarnya ini memang bukan berbau larangan untuk melarang orang yang merokok ke masjid, hanya saja, orang yang merokok itu harusnya tahu diri….
itu salah satu adab masuk masjid..
kalo makan jengkol atau petai gimana ??
kalau ga sikat gigi atau kumur2 ya bau tentunya
Menurut hemat saya, siapa pun boleh mulai meninggalkan hal yang makruh dan mubah apabila khawatir mengganggu keyakinan atas amalan ibadah wajib dan/atau sunnah. Tapi, hitung juga kemubadziran yang anda lakukan tanpa anda sadari, misal: butuh suasana rileks dengan berbelanja secara berlebihan di plasa, ke tempat hiburan / rekreasi dengan biaya tinggi, membangun rumah kediaman cukup mewah bagi pribadi/keluarga, tidur panjang (lebih lama) di malam hari karena lelah melaksanakan amalan syar’i (ilmu mu’aamalah) di siang hari sehingga melewatkan kesadaran hakekat (ilmu mukaasyafah).
kesadaran hakekat apaan tuh..
bukan berdebat,, tapi kl lg puasa gmn?,,, sprtinya mau bersiwak model apapun hy akan mengurangi bau ,, tapi intinya brsih diri dan buat nyaman diri sndri dr segala bau, insya alloh ga akan mengganggu sekeliling kita…a min
kalau puasa baunya ya beda lagi…kan katanya ibarat bau kasturi hehe