Di sebuah ruang makan di salah satu rumah, terjadi percakapan antara suami dan istri. Yaitu Kang Ian dan Istrinya.
K: Kang Ian dan I: Istri
I: Hmmm..kerjaan di kantor tadi gimana A? Lancar?
K: Alhamdulillah..seperti biasanya, kalau Ade gimana tadi di Sekolah?
I: Alhamdulillah juga…yah walaupun terkadang anak-anak susah banget diaturnya padahal sudah kelas 6 SD.
K: Ya belajarlah..itung-itung kalau nanti punya anak sendiri kan gak kaget. Awas jangan galak-galak loh jadi Ibu Gurunya..hehe
I: Gak lah..aku kan bukannya galak, tapi tegas. Kan seorang guru harus punya wibawa di depan murid-muridnya.
K: Iya sih..tapi kalau sama Aa jangan pasang muka tegas yah..hehe
I: Ih apa sih…Mmm ngomong-ngomong, gimana rasanya A masakanku hari ini?
K: Mmm..Enak dong..lumayanlah buat pemula mah hehe..belanja dimana tadi pagi sebelum berangkat ngajar?
I: Itu di Warung Bu Eni. Yang dekat rumah Pak RT.
K: Ouh..gimana dah kenal sama-sama ibu-ibu komplek sini?
I: Ya gitu deh..aku kan gak banyak omong. Paling ramah tamah aja sama ibu-ibu disana, aku kan gak suka ngegosip..
yaan pernikahannya. Dia dikenal sebagai salah satu da’i yang ikhlas. Pada hari yang dijanjikan itu, dilaksanakanlah pesta pernikahannya. Dia memakai baju nikahnya dan tercium aroma harum dari pakaiannya. Pada saat itu, di malam itu, sebagaimana halnya para pengantin, senyuman enggan beranjak pergi dari kedua bibirnya. Setiap kali bertemu dengan seseorang dia menyalami dan mengucapkan salam kepadanya. Dia memegang erat tangan temannya dan tidak melepaskan hingga teman yang lain datang menyusul menyalaminya.