Definisi & Sejarah Turunnya Syari’at Shaum Ramadhan


Bismillah

Teman-teman, Sudah berapa lama ya kita melakukan shaum rhamadan? Selama itu apakah ada yang beda dalam shaum kita? Kalau kita masih merasa sama saja, maka memang ada yang tidak beres dengan shaum kita. Tahukah teman-teman bahwa sebuah ibadah itu ada definisi dan sejarahnya? Sama halnya dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Shaum Rhamadan juga mempunyai definisi dan sejarahnya. Hal ini penting kita ketahui sebagai bentuk kecintaan kita akan ibadah itu sendiri, karena kalau suatu ibadah itu tidak didasari dengan landasan yang benar  dan ilmiah yang didalamnya terdapat definisi dan sejarahnya, maka tentunya kita hanya melakukan ibadah yang bid’ah dan dibuat-buat saja. Dan tentunya kita hanya akan melaksanakan suatu ibadah rutinitas saja bukan dikarenakan kita faham dan mengerti esensi dari ibadah tersebut.

Nah untuk itu saya akan menjelaskan tentang definisi shaum dan sejarah diturunkan syari’at ini, semoga bermanfaat buat kita kaum muslimin yang sebentar lagi akan melaksanakan ibadah ini, supaya nanti ibadah shaum kita bisa menjadikan kita lebih baik dan mendapatkan derajat di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Amiin..

1. Ta’rif (Definisi) Ash-Shaum

Secara Etimologi / Lughawi
Secara lughowi (bahasa) Ash-Shaum (الصَّوْمُ) bermakna (الإِمْسَاكُ) yang artinya menahan. Atas dasar itu berkata Al-Imam Abu ‘Ubaid dalam kitabnya Gharibul Hadits :
كُلُّ مُمْسِكٍ عَنْ كَلاَمٍ أَوْ طَعَامٍ أَوْ سَيْرٍ فَهُوَ صَائِمٌ
“Semua orang yang menahan diri dari berbicara atau makan, atau berjalan maka dia dinamakan Sha`im (orang yang sedang bershaum).” [1])

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala :
) إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا ( مريم: ٢٦
“Sesungguhnya aku telah bernadzar shaum untuk Ar-Rahman, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” [Maryam : 26]

Shahabat Anas bin Malik dan Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata : صَوْمًا maknanya adalah صَمْتًا yaitu menahan diri dari berbicara. [2])

Secara Terminologi / Ishthilah

‘Ibarah (ungkapan) para ‘ulama berbeda dalam mendefinisikan ash-shaum secara tinjauan syar’i, yang masing-masing definisi tersebut saling melengkapi. Sehingga kami pun sampai pada kesimpulan bahwa definisi ash-shaum secara syar`i adalah :
إِمْسَاكُ الْمُكَلَّفِ عَنِ اْلمُفَطِّرَاتِ بِنِيَّةِ التَّعَبُّدِ للهِ مِنْ طُلُوعِ اْلفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ

Usaha seorang mukallaf untuk menahan diri dari berbagai pembatal ash-shaum disertai dengan niat beribadah kepada Allah, dimulai sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Penjelasan definisi
1. Pernyataan “al-mukallaf” menunjukkan bahwa ash-shaum secara syar’i adalah yang dilakukan oleh para mukallaf yaitu orang-orang yang telah terkenai kewajiban ibadah, dari setiap muslim yang sudah baligh dan sehat akalnya. [3]
2. Pernyataan “dengan disertai niat beribadah kepada Allah” menunjukkan bahwa ash-shaum harus disertai dengan niat shaum sebagai sebuah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.
3. Pernyataan “dimulai sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari”

)وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ(البقرة: ١٨٧
Dan makan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu (cahaya) fajar. Kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai (datangnya) malam. [Al-Baqarah : 187]

Footnote :
[1] Gharibul Hadits (I/325-326, 327). Lihat Subulus Salam karya Ash-Shan’ani, awal Kitabush Shiyam.
[2] Lihat Tafsir Ibni Katsir tafsif surat Maryam ayat 26.

[3] Lihat hukum shaum bagi anak-anak yang belum baligh pada halaman
Continue reading